Sunday, March 27, 2016

Jenis-jenis Kucing Hutan

Jenis-jenis Kucing Hutan



Kucing Hutan adalah sebutan untuk kucing liar yang hidup di hutan. Ada beberapa Jenis Kucing Hutan Di Indonesia dan penyebarannya di hutan kalimantan, hutan sumatera dan jawa. Kucing Hutan mencakup beberapa jenis kucing berukuran besar dan kecil tetapi tidak mencakup kucing yang hidup di gurun atau padang rumput dan kucing liar yang ada di sekitar lingkungan. Beberapa diantaranya termasuk kucing yang hampir punah dan keberadaanya dilindungi untuk mencegah kepunahan dari jenis kucing ini.
Mari kita lihat beberapa Jenis Kucing Hutan Di Indonesia :
  • Kucing Batu (Pardofelis marmorata, syn. Felis marmorata)

Jenis Kucing Hutan Di Indonesia

Kucing Batu atau Pardofelis marmorata, syn. Felis marmorata adalah kucing liar berukuran kecil yang berasal dari asia tenggara dan asia selatan. Kucing ini termasuk kucing yang hampir punah karena populasi di alam liar kurang dari 10000.

Di indonesia, kucing batu dapat di temukan di daerah kepulauan sunda, kucing batu sering kali di lihat di daerah pertanian, akan tetapi habitat asli dari kucing batu adalah hutan.

Kucing batu memiliki ukuran tubuh seperti kucing biasa tetapi lebih langsing dengan kaki lebih panjang dan tapak kaki yang lebar. Di daerah indonesia kucing batu memiliki berat badan antara 1-3.8kg dan panjang badan sekitar 38.8 hingga 66cm dengan panjang ekor sekitar 17.2 hingga 31 cm.

Kucing batu memiliki moncong yang pendek, kecil dan berwarna putuh pada ujungnya, dan memili dua garis hitam tebal pada kepalanya yang kecil. Warna bulu di dominasi warna kecoklatan dan bintik hitam serta warna putih pada bagian perutnya serta motif cincin pada ekornya.
  • Kucing Congkok (Felis bengalensis)

    Jenis Kucing Hutan Di Indonesia

    Kucing Congkok atau Meong Congkok termasuk Termasuk dalam famili Felidae adalah salah satu hewan yang biasa di jadikan indikator kerusakan hutan akibat penebangan liar atau pembakaran lahan. Di Indonesia, kucing ini dapat di temui di Sumatera dan Kalimantan.

    Kucing congkok berwarna kuning abu-abu dengan pola totol hitam di sekujur tubuh menyerupai macan tutul. Bagian perut berwarna putih. Ukuran tubuh bervariasi dari mulai panjang 46 cm (berat 2,2 kg) untuk sub-species di Indonesia hingga 65 cm (berat 7,5 kg) di timur Rusia. Panjang ekor mencapai setengah panjang tubuh.

    Kucing Congkok juga sering di sebut sebagai kucing leopard ini sangat menyukai air dan sangat pandai berenang. Kucing ini juga dapat bertahan hidup selama 15 tahun dan dapat melahirkan 1-4 anak di setiap masa reproduksinya.

    Kucing Congkok juga termasuk kedalam salah satu hewan yang di lindungi dan terancam punah karena populasinya yang mulai berkurang drastis akibat perusakan hutan sebagai habitat asli dari kucing ini.
  • Macan Dahan Benua (Neofelis Nebulosa)
    Jenis Kucing Hutan Di Indonesia
    Macan Dahan Benua atau Neofelis Nebulosa adalah hewan liar sejenis kucing dengan ukuran sedang dan memiliki panjang tubuh yang mencapai 95cm. Macan Dahan memiliki ciri bulu bewarna kecoklatan dengan motif seperti awan dan bintik di tubuhnya. Pada kepala terdapat bintik hitam berukuran lebih kecil dan di belakang telinganya terdapat totol putih. 
    Macan Dahan jantan dan betina memiliki kaki yang pendek dengan telapak kaki besar serta ekor panjang dengan garis dan bintik hitam.
    Macan Dahan Benua dapat di temui di wilayah Asia Tenggara, Tiongkok, Indocina, india dan Semenanjung Melayu. Khusus daerah Tiongkok, Macan dahan telah di nyatakan punah di alam bebas.
    Di Indonesia, Macan Dahan Benua dapat di temui di Pulau Kalimantan dan Pula Sumatera, sejak tahun 2006 spesies ini tidak lagi dianggap satu spesies dengan Macan Dahan benua dan dimasukkan kedalam spesies Neofelis diardi.
    Macan dahan adalah hewan nokturnal yang aktif berburu di malam hari. Hewan ini banyak menghabiskan waktunya di atas pohon dan dapat bergerak dengan lincah di antara pepohonan agar mudah mencari mangsa. Mangsa dari Macan Dahan antara lain aneka satwa liar berbagai ukuran seperti kera, ular, mamalia kecil, burung, rusa dan bekantan.
    •   Kucing Emas Asia (Catopuma temmincki)

      Jenis Kucing Hutan Di Indonesia

      Kucing Emas Asia atau Catopuma temmincki adalah jenis kucing misterius dan sangat dijumpai pada saat ini dan kucing ini juga termasuk kucing yang terancam punah karena populasinya yang sedikit dan terus menurun.

      Kucing Emas memiliki berat badan sekitar 8-12 kg dengan panjang sekitar 1.2 meter. Warna bulu pada kucing ini di dominasi oleh warna cokelat ke-emasan dengan warna pada perut lebih terang daripada pinggulnya. Kucing ini juga memiliki warna belang akan tetapi tidak menghilangkan warna khas dari kucing ini.

      Kucing emas ini hidup tersebar dari daerah Tibet, Nepal, Cina, Burma, Thailand sampai Indocina, Malaysia, Sumatera, dan juga Afrika. Khusus di indonesia kucing ini dalam pengawasan untuk mencegah kepunahannya, dan kucing ini hidup di dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat.
    •  Macan Dahan Kalimantan (Neofelis Diardi)

      Jenis Kucing Hutan Di Indonesia
      Macan dahan kalimantan atau Neofelis Diardi adalah kucing liar berukuran sedang yang bisa kita temukan di Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera. Karena makin maraknya perburuan terhadap Macan Dahun kalimantan, IUCN mengklasifikasikan spesies ini sebagai spesies yang rentan terhadap kepunahan, dengan ukuran populasi efektif total diperkirakan kurang dari 10.000 individu dewasa, dan tren populasi yang menurun.
      Macan Dahan Kalimantan adalah salah satu pemangsa terbesar di kalimantan. Kucing yang terlihat sangat kekar ini memiliki berat badan sekitar 12-25 kg dengan panjang badan sekitar 90 cm. 
      Gigi taring pada macan dahan mencapai 2 inci dan termasuk taring yang terpanjang dibandingkan dengan kucing yang lain pada saat ini. Kucing ini juga memiliki ekor yang panjangnya sama dengan tubuhnya sehingga memiliki tubuh yang seimbang.

      Pola bulu pada macan dahan kalimantan berupa oval tak beraturan dengan sisi tepi hitam, dan di dalamnya ada titik-titik hitam (yang menyebabkannya lebih gelap daripada macan dahan Malaya).
      •   Kucing Merah

        Kucing endemik Pulau Kalimantan ini seperti namanya memiliki bulu berwarna merah yang cantik. Kucing yang dijuluki Bornean bay Cat ini keberadaanya dikategorikan sebagai hewan hampir punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN).
        •  Kucing Kepala Datar

          Kucing berjuluk Flat Headed Cat ini bisa ditemukan di hutan Kalimantan dan Sumatera. Diperkirakan jumlah kucing langka ini sekarang tak lebih dari 3000 ekor dan sejak 2008 kucing ini sudah dikategorikan sebagai hewan yang hampir punah oleh IUCN.
          • Kucing Bakau

            Kucing bakau banyak ditemukan di hutan bakau, rawa, hingga tepian sungai di Pulau Jawa. Kucing ini termasuk unik karena tidak takut air dan bisa menyelam untuk mencari mangsa berupa ikan, katak, dan udang.

            Oleh pemerintah, kucing bakau ini ditetapkan menjadi hewan yang dilindungi dengan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999, begitu juga oleh IUCN.

            Demikian artikel dari saya apabila ada yang mau menambahkan atau komenta silahkan masukan dikolom komentar ,Terima kasih.

Kucing Hutan

Kucing Hutan


Kucing Hutan adalah sebutan untuk kucing liar yang hidup di hutan. Ada beberapa Jenis Kucing Hutan Di Indonesia dan penyebarannya di hutan kalimantan, hutan sumatera dan jawa. Kucing Hutan mencakup beberapa jenis kucing berukuran besar dan kecil tetapi tidak mencakup kucing yang hidup di gurun atau padang rumput dan kucing liar yang ada di sekitar lingkungan. Beberapa diantaranya termasuk kucing yang hampir punah dan keberadaanya dilindungi untuk mencegah kepunahan.

Sekarang kucing hutan dilindungi, Berikut ini adalah sanksi bagi yang memelihara atau yang memperjualbelikan hewan yang sudah masuk dalam kategori hewan yang dilindungi menurut Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999:
  1. Barangsiapa dengan Sengaja menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup; (Pasal 21 ayat (2) huruf a), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2));
  2. Barang Siapa Dengan Sengaja menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati (Pasal 21 ayat (2) huruf b), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2));
  3. Dengan Sengaja memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh, atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia; (Pasal 21 ayat (2) huruf d), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2))
Kucing Blacan (Felis bengalensis) dilindungi oleh Undang-Undang tersebut bersama dengan beberapa spesies kucing liar lainnya seperti Kucing Merah (Felis badia), Kucing Kuwuk (Felis marmorota), Kucing dampak (Felis planiceps), Kucing Emas (Felis temmincki), dan Kucing Bakau (Felis viverrinus).



Cara Memelihara Garangan Dewasa

Cara Memelihara Garangan Dewasa




Baca Juga : Pengertian garangan
Merawat garangan sangatlah mudah,inilah caranya:
  • Siapkan kandang,Pastikan menggunakan kandang besi (jangan menggunakan kawat ram,karena garangan akan menggigit kawat dan lepas,juga jangan menggunakan kandang bambu karena garangan akan menggigiti setiap hari bambunya sampai patah). Ukuran untuk 1 ekor garangan minimal 0,5 x 0,8 m.
  • Beri tempat minum dan tempat makan didalam kandang.
  • Masukan garangan.
  • Karena Garangan adalah karnivora sebaiknya kasih daging seperti: ikan,kodok,kepala ayam,ceker,dll
  • Kasih makan sebaiknya 3 kali sehari,walaupun sebenarnya ada yang membiasakan kasih makan garangan cuma satu atau dua kali sehari,tetapi kasihan garangannya,karena dia juga makhluk hidup dan butuh makan.
  • Karena garangan adalah karnivora jadi pup nya sangat bau dan sebaiknya sering-sering membersihkan kandang.
Demikian artikel dari saya apabila ada yang mau ditambahkan atau ditanyakan silahkan masukan dikolom komentar,Terima kasih.

Cara Breeding Garangan

Cara Breeding Garangan


Baca Juga : Cara Memelihara Garangan Dewasa
Cara Breeding Garangan tergolong lebih mudah daripada musang,untuk sekarang garangan masih banyak kita temui disawah-sawah.
  • Pastikan garangan yang akan dibreeding sudah cukup umur yaitu berumur 1 tahun lebih, baik betina maupun jantan
  • Siapkan kandang  yang cukup luas,karena garangan itu suka pecicilan nggak mau diam yaitu minimal berukuran 1,5 x 0,5 m, bila perlu didalam kandang dikasih kotak untuk bersembunyi atau untuk tempat menyusui anaknya nanti
  • Tempatkan kandang di tempat semi terbuka bersirkulasi udara baik.
  • Masukan si betina dahulu didalam kandang ,lalu dekatkan si jantan selama minimal 1 minggu dikandang yang berbeda agar mereka saling kenal.
  • Untuk garangan bisa ditaruh lebih dari satu betina dan si jantan hanya satu,yang penting kandangnya luas.
  • Pastikan pemberian makanan yang cukup dan tidak kurang makanan, beri makanan berupa ikan,kodok,dll. Intinya jangan kasih makan satu jenis saja.
  • Jika si betina hamil maka terlihat putingnya mulai jelas,perut bagian belakang mulai membuncit.
  • Lama kehamilan untuk garangan adalah 2 bulan
  • Baby garangan mulai belajar makan sekitar umur 2 bulan keatas
Demikian artikel dari saya mohon maaf bila banyak kekurangan,bila ada yang mau ditambahkan atau ditanyakan silahkan masukan dikomentar,Terima kasih.

Saturday, March 26, 2016

Cara Merawat Baby Garangan


Cara Merawat Baby Garangan

Baca Juga : Cara Breeding Garangan

Pada dasarnya cara merawat baby garangan sama halnya dengan merawat baby musang,yang pertama anda perlu siapkan adalah kandangnya. Garangan adalah hewan yang sangat suka menggigit
jadi pastikan kandang menggunakan besi seperti kandang kucing hanya saja lebih rapat kawatnya,karena garangan tubuhnya pandai mengecil sehingga kalau kawatnya terlalu lebar bisa lolos,apabila menggunakan kawat ram garangan masih bisa lolos.Dalam kasus saya garangan ditaruh dalam kandang bambu,bambunya digigit tiap hari sampe patah dan akhirnya lepas.
Yang kedua siapkan spet jika garangan masih sangat kecil dan belum bisa makan sendiri,maka kita harus bantu spet 4-6 jam sekali 10-15 ml,Gunakanlah susu non lactosa seperti SGM Ananda 0-6 bulan dll. Jika garangan sudah tumbuh gigi bisa dilatih makan daging ayam rebus yang diblender atau dicuil-cuil supaya mudah makannya,walaupun garangan adalah karnivora,tapi banyak kasus garangan mau makan sayur seperti kangkung dll. 
Di habitat aslinya garangan biasa memakan tikus sawah, ayam, kodok,ikan,ular,dll.
Banyak yang menganggap garangan sebagai hama,padahal garangan membantu petani mengurangi tikus. Garangan hidup di lobang-lobang tanah,garangan bisa berumur mencapai 10-15 tahun,Saat ini garangan masih terbilang cukup banyak dan belum punah.

Demikian artikel dari saya,apabila ada yang mau menambahkan silahkan tambahkan dikomentar,terimakasih.



Garangan

Garangan


Baca Juga : Cara Merawat Baby Garangan
 Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Garangan jawa (Herpestes javanicus), dalam bahasa daerah dikenal sebagai garangan (Jw.) atau ganggarangan (Sd.), adalah sejenis karnivora kecil anggota suku Herpestidae. Menyebar luas di Asia Tenggara dan Selatan, hewan ini dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Javan mongoose, small Indian mongoose, atau small Asian mongoose. Belakangan, anak jenis auropunctatus dari Nepal diusulkan sebagai spesies tersendiri.

Daftar isi

Pengenalan


Warnanya cokelat kemerahan
Garangan bertubuh kecil hingga sedang, panjang kepala dan tubuh 250–410 mm, sedangkan ekornya sekitar 60–80% panjang kepala dan tubuh tadi. Tungkai belakangnya 50–70 mm dari ‘tumit’ hingga ujung jari. Ukuran tubuh ini bervariasi, dengan kecenderungan paling kecil di barat laut daerah sebarannya (India utara) dan bertambah besar ke arah tenggara, dengan ukuran terbesar didapati di Jawa.[2] Bobot tubuhnya berkisar antara 0,5–1 kg.[3]
Cokelat kelabu hingga cokelat kemerahan; warna kaki sama dengan warna tubuhnya[4]. Sebagaimana ukurannya, warna tubuh ini juga bervariasi dari yang paling pucat di ujung barat laut wilayah sebarannya (India barat laut dan Pakistan), gelap keabu-abuan di Assam dan Burma, hingga tersaput kuat dengan warna kemerahan di Vietnam dan Jawa.[2]

Agihan


Opsetan di Museum Zoologi Kunming
Garangan jawa menyebar luas mulai dari Persia (Iran sekarang), India utara, Burma, ke Indocina, Hainan, Siam (Thailand), Semenanjung Malaya, dan Jawa.[5] Beberapa individu tercatat dari Sumatera bagian utara, yang dideskripsi Sody (1949) sebagai H. javanicus tjerapai[6].
Hewan ini juga diintroduksi ke Hindia Barat, Kepulauan Hawaii, Mauritius, Kepulauan Fiji, Okinawa, dan Amami Ōshima di Jepang, untuk mengendalikan tikus dan ular. Garangan mungkin juga menyebar (dengan menumpang kapal) ke Hong Kong dan Pulau Madura.[1]

Ekologi dan perilaku


Garangan hendak menyeberang jalan
Hewan pemangsa ini umumnya hidup di semak-semak dan padang rumput, daripada di hutan yang rapat. Aktif di atas tanah (terestrial) dan jarang memanjat pohon, garangan tidur dalam lubang-lubang di tanah, lubang pohon dan tempat yang serupa.[3]
Garangan jawa aktif berburu mangsa di siang maupun malam hari. Ia sering terlihat menyeberangi jalan di siang hari, dengan badan rendah di atas tanah dan ekor lurus di belakangnya. Mangsa utamanya adalah tikus, namun garangan tidak keberatan memangsa apa pun hewan kecil yang ditemuinya: burung, reptil, kodok, yuyu, serangga, dan bahkan kalajengking. Dilaporkan bahwa garangan acap menjilati dan mengisap-isap darah mangsanya yang keluar dari luka; dan karenanya hewan ini dapat membunuh banyak ayam, bila sempat masuk ke kandang.[3]
Garangan atau cerpelai dikenal sebagai musuh atau pemangsa ular; perkelahian garangan dengan ular sendok (kobra) sangat populer, meskipun agaknya ular hanyalah bagian kecil dari porsi mangsa garangan[3]. Terkait dengan ini, Rikki-Tikki-Tavi adalah garangan yang terkenal, tokoh dalam novel karya Rudyard Kipling, yang berkelahi dan membunuh ular-ular kobra yang mengancam keselamatan majikannya.
Garangan jawa tidak memiliki musim kawin yang khusus. Hewan betina melahirkan 2–4 anak, setelah mengandung selama sekitar 6 minggu.[3]

Introduksi dan invasi

Abad ke-19 merupakan abad perkembangan perkebunan tebu. Tanaman penghasil gula ini dikembangkan di banyak wilayah tropis; dan bersama dengan meluasnya tebu, turut berkembang pula populasi tikus, yang menjadi hama tanaman tebu. Sedini tahun 1870, garangan telah dibawa masuk ke Trinidad, untuk mengendalikan hama tikus, namun gagal.[7] Upaya berikutnya, yang memasukkan garangan jawa dari Kalkuta ke Jamaika, berhasil pada tahun 1872. Keberhasilan ini ditulis dalam sebuah karyatulis karangan W.B. Espeut[8], yang memicu para pemilik perkebunan tebu untuk mengangkut 72 ekor garangan dari Jamaika ke Pulau Besar di Hawaii, dan selanjutnya juga ke pulau-pulau sekitarnya.
Dengan alasan serupa, pada 1884 garangan dibawa masuk ke Kepulauan Virgin, untuk mengendalikan hama tikus hitam (Rattus rattus) yang merusakkan perkebunan tebu di situ. Namun upaya ini membawa dampak negatif pada populasi iguana hijau (Iguana iguana) dan kadal Ameiva polops, yang jadi jauh menyusut karena turut dimangsa garangan. Demikian pula populasi burung-burung yang bersarang di tanah.[9]
Tahun 1910, garangan ini dibawa masuk ke Okinawa, Jepang, dan juga pada 1979 ke Pulau Amami Ōshima, untuk mengendalikan populasi sejenis ular berbisa (Trimeresurus flavoviridis) dan populasi hama yang lain. Akan tetapi, karena pertumbuhan populasinya dan karena sifat invasifnya, kini garangan justru berbalik menjadi hama yang baru di tempat-tempat tersebut. .[10]

Catatan taksonomis

Alih-alih sebagai anak jenis H. javanicus, beberapa ahli menempatkan garangan kecil india (H. auropunctatus (Hodgson, 1836)) sebagai spesies tersendiri, yang berbeda dari jenis sebelumnya dalam ukuran dan pewarnaan tubuh.[11][12][13][14] Batas wilayah sebaran kedua jenis ini adalah aliran Sungai Salween di Burma, di mana populasi di timurnya adalah H. javanicus, menyebar hingga ke Indo Cina dan Jawa, sementara di sebelah barat sungai adalah H. auropunctatus, yang menyebar hingga ke Irak di ujung barat.[15]
Jika mengikuti pendapat yang akhir ini, jenis yang diintroduksi ke pelbagai tempat tadi adalah H. auropunctatus, dan bukan H. javanicus.[16]


Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Garangan_jawa

Demikian sedikit artikel dari saya yang saya ambil dari wikipedia,mohon maaf bila banyak kekurangan,terimakasih

Cara Breeding Otter

Cara Breeding Otter


    Baca Juga : Cara Merawat Baby Otter
  1. Diusahakan OTTER yang akan dikawinkan sudah cukup umur, usia 1tahun sampai 2tahun                    ( usia matang/dewasa untuk jantan )
  2. diusahakan bila OTTER tersebut jinak maka harus di satukan dengan yang jinak pula, (liarpun bisa cuma mengurangi resiko cidera saat kawin )
  3. OTTER betina biasanya di tandai dengan adanya cairan yang keluar mengental dan agak bening,dan kelamin memerah/membesar ditandai agak sensi (bersuara,gelisah, kurang nafsu makan ),
  4. si jantan ditandai keluarnya penis,dan sering membasahi/menjilati penis, sensitif, agak susah makan (dlm porsi sdikit / kadang masih mau makan ), galau, suka mengapit sesuatau seperti menunggangi boneka/kaki/tangan kita  )
  5. apabila ingin berniat mengawinkan, siapkan kandang yang memadai, minim cukup buat sepasang OTTER
  6. si betina berada dlm kandang duluan, sebelum jantan dimasukan,
  7. perlu diingat biasanya,mengawinkan OTTER juga sedikit beresiko, biasanya OTTER saling gigit, dan cakar, dan sibetina biasanya yang lebih aktif,ada suatu kasus yang betinanya malah membunuh  si jantan/melukai si jantan.
  8. ada yang setelah mereka dikandang berdua saat disatukan akan dipisah saat pagiharinya,agar tidak kecapean,dan ada juga yang seharian bahkan bulanan dlm 1 kandang (breeding cages).
  9. ada juga yang dari kecilnya si OTTER ini sudah dimiliki sepasang,tetapi dlm waktu 1,5th belum ada pembuahan,disaat usia 2th mereka tanpa disengaja melahirkan anaknya dlm kandang,jadi perkawinan tidak disengajapun kadang terjadi tanpa kita sadari (pengalaman dulu)
  10. sebaiknya tidak menggangu pada saat mereka kawin, ada juga yang menyatukan: 1 jantan dan 2 betina dlm 1 kandang besar,memang tidak bisa diprediksi saat mngawinkan OTTER jadi tidaknya pembuahan, ada yang cepat adapula yang lama/tidak terjadi...
  11. selalu sediakan minuman yang bersih,dan pakan yang layak di dlm kandang.kebersihan kandangpun harus terjaga.
  12. perkawinan OTTER ,kadang  ditempat2 seperti lubang/semak2 tertutup bercelah.. 
  13.    INGAT!!! Pastikan OTTER yang akan dikawinkan harus saling kenal lebih dahulu,sehingga tidak saling serang, biasanya otter yang sudah saling kenal bila dipisahkan akan berisik memanggil-manggil pasangannya(intinya kalau sudah kenal tidak mau dipisahkan) 
 Demikian sedikit pencerahan dari saya,apabila ada tambahan silahkan tambahkan dikolom komentar,Terimakasih